Di pegunungan Rwanda, jauh dari debur ombak Papua, Jerry Oliver Simunapendi menatap langit yang berbeda. Namun satu hal tidak pernah berubah: rindunya pada rumah, dan tekadnya untuk pulang dengan sesuatu yang berguna. Ia tahu, jarak tidak memutuskan identitas. Justru jarak sering membuat seseorang semakin paham, untuk apa ia hidup dan kepada siapa ia harus kembali.
Perjalanan Jerry tidak dimulai dari panggung besar. Ia dimulai dari kesempatan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana: program APCEP. Tetapi bagi Jerry, APCEP adalah titik balik—bukan hanya soal belajar, melainkan soal dibentuk. Ia belajar di lingkungan yang mengajarkan disiplin, rasa syukur, keberanian mencoba, dan ketulusan melayani. Ia melihat bagaimana nasihat, perhatian, dan teladan kecil dari orang-orang baik dapat menumbuhkan mental yang kuat. Dari situ, Jerry menangkap satu pelajaran yang jarang diajarkan: karakter dibangun oleh kebiasaan baik yang konsisten, bukan oleh motivasi yang datang sesekali.

Saat kembali ke Papua, ia tidak memilih hidup yang paling nyaman. Ia memilih hidup yang paling bermakna. Ia bergabung dalam gerakan lingkungan dan memimpin Papua Trada Sampah (PTS Nabire). Ia dan komunitasnya bekerja tanpa banyak sorotan—mengajak masyarakat peduli sampah, memindahkan berton-ton plastik, bahkan ketika tidak ada insentif yang menggiurkan. Ia tetap bergerak karena percaya: kalau kita tidak menjaga tanah ini, generasi setelah kita akan mewarisi masalah yang lebih berat.
Dari semua yang ia lakukan, Jerry paling mencintai satu hal: menanam pohon. Satu pohon adalah harapan yang dititipkan ke masa depan. Seribu pohon adalah pesan keras bahwa anak Papua bisa mencintai tanahnya lewat tindakan, bukan hanya kata-kata. Ia tidak menunggu semuanya sempurna, ia tidak menunggu orang lain mulai duluan. Ia mulai dari apa yang ia bisa, dan ia ulangi terus sampai menjadi dampak.
Tahun 2025, Jerry terpilih mengikuti Singapore–Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP). Ia berdiri di forum itu bukan untuk membuktikan dirinya paling hebat, tetapi untuk membawa nama kampung halamannya dengan bermartabat. Ia paham, kesempatan seperti itu bukan sekadar prestasi pribadi; itu amanah. Dan ia tahu, ia tidak akan sampai di sana tanpa pintu yang lebih dulu dibukakan oleh orang-orang yang pernah percaya pada anak Papua.
Kini, sebagai relawan di Afrika, Jerry terus belajar cara-cara memulihkan lingkungan. Ia mempelajari bagaimana Rwanda merawat tanahnya, bagaimana disiplin bersama bisa mengubah kondisi alam, dan bagaimana pemulihan tidak terjadi dalam sehari. Semua pelajaran itu ia simpan bukan untuk menjadi cerita perjalanan semata, tetapi untuk dibawa pulang.

Lalu datang lagi satu kabar: Jerry terpilih sebagai penerima beasiswa International Blue Economist Certification Training Course (IBECTC) Batch 12, program sertifikasi profesional tentang “Blue Economy”—bagaimana laut tetap sehat, sementara ekonomi tetap tumbuh. Dari ratusan pendaftar, hanya sebagian kecil anak muda yang terpilih. Bagi Jerry, ini bukan sekadar gelar, melainkan bekal untuk Papua, terutama masyarakat pesisir Teluk Cenderawasih yang ia pedulikan sepenuh hati.
Kisah Jerry sebenarnya adalah cermin untuk Generasi Mutiara Hitam Papua. Bahwa kita tidak kekurangan talenta. Yang sering kurang hanya satu: keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk bertahan. Jangan menunggu percaya diri dulu baru melangkah—sering kali, percaya diri justru lahir setelah kita berani melangkah. Jangan menunggu keadaan ideal baru bergerak—justru orang yang bergerak di keadaan sulitlah yang biasanya membentuk jalan baru.

Kalau hari ini kamu merasa kecil, ingat ini: dunia tidak sedang menunggu kamu siap. Dunia bergerak. Tetapi kamu bisa memilih, bergerak juga—dengan belajar, dengan melayani, dengan konsisten. Papua tidak hanya butuh orang pintar. Papua butuh orang yang mau berdiri ketika lelah, mau tetap peduli ketika sunyi, dan mau pulang membawa solusi.
Jerry Oliver Simunapendi menunjukkan satu hal sederhana namun mahal: sejauh apa pun kamu pergi, kalau tujuanmu adalah pulang untuk membangun, maka langkahmu tidak pernah sia-sia.
Komentar
Jery, luar biasa, anaknya pak Ely Simunapendi. Semoga sukses selalu dan jadi berkat untuk tanah Papua 👍💪🙏
Tambahkan Komentar Baru